Senantiasa Meneladani Orang-orang Yang Diberi Hidayah dan Mengetahui Penyakit yang Dapat Merusak Hidayah
07. Senantiasa Meneladani Orang-orang Yang Diberi Hidayah dan Mengetahui Penyakit yang Dapat Merusak Hidayah
صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّين
“(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat”. (Al-fatihah:7)
a. Senantiasa Meneladani Orang-orang Yang Diberi Hidayah
Ketika kita membahas tentang kebiasaan baik keenam yang termaktub dalam surat Al-Fatihah; senantiasa berada dalam hidayah Allah, disebutkan di dalamnya bahwa jalan untuk tetap berada dalam hidayah Allah adalah dengan memberi pupuk hidayah; selalu membaca sirah orang-orang yang diberi hidayah dari para salafusshalih dan mengikuti jejak langkah mereka, dan pada sisi lain dengan mengenali penyakit-penyakit yang dapat merusak hidayah tersebut.
Dalam hidup ini, kita selalu dihadapkan dengan dua kondisi yang selalu bertolak belakang, bertentangan dan satu sama lain saling menghancurkan; al-haq dan al-bathil, al-iman dan al-kufur, as-shalih dan at-talih, al-adlu dan azh-zhulmu. Bagi pemegang kebenaran selalu ingin menampilkan kebenaran dan menghancurkan kebatilan, sebagaimana orang yang beriman selalu ingin tampil di hadapan orang-orang kafir, dan begitu pula dengan orang-orang yang shalih dan orang yang berpegang pada keadilan. Namun pada sisi lain, jangan disangka orang-orang yang berada dalam kebatilan akan mengalah begitu saja, mereka juga akan berusaha mempertahankan kebatilan mereka, sekalipun mereka sadar bahwa mereka dalam kebatilan, kekufuran, ketalihan dan kezhaliman, adalah karena jiwa mereka sudah ditutupi oleh hawa nafsu, harta dan tahta, maka mereka akan terus berusaha tampil dan berusaha ingin mengalahkan orang-orang yang berada dalam kebenaran. Bahkan dengan sekuat tenaga, fikiran dan harta akan mereka perjuangkan untuk meraih apa yang mereka telah rencanakan dan cita-citakan.
Sejarah telah banyak menampilkan episode kehidupan dua sisi yang bertolak belakang dan bertentangan tersebut, bahkah hingga kini masih terus berlangsung hingga yaumil akhir. Dan bagi kita sebagai umat Islam, agar dapat tetap berada dalam hidayah Allah, maka diperintahkan untuk membaca sejarah mereka guna dapat mengambil ibrah dan pelajaran dari orang-orang yang telah diberikan petunjuk dan mendapatkan kemenangan di akhirat kelak.
Allah mengabarkan kepada kita bahwa teladan terbaik dalam kehidupan ini adalah para nabi, shiddiqin, syuhada dan shalihin. Mereka adalah orang-orang yang telah terbukti keistiqamahannya dalam menunaikan risalah hidup sesuai dengan aturan dari Zat Yang Memberikan kehidupan. Mereka itulah yang termasuk kelompok ash-shirat al-mustaqiim. Kelompok ini yang menggabungkan antara kepatuhan dan ketundukan kepada syariat dengan penghormatan terhadap potensi akal sebagai karunia Allah. Mereka menggunakan akal semaksimal mungkin untuk menemukan rahasia ciptaan Allah yang ada di alam dan rahasia yang termaktub di dalam kitab suci untuk tujuan ibadah kepada Allah.
Siapakah mereka? Mereka adalah orang-orang yang telah diberikan nikmat hidayah oleh Allah sebagaimana tertuang dalam firman Allah:
فَأُولَئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيقًا
“Mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, Yaitu: Nabi-nabi, Para shiddiqin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. dan mereka Itulah teman yang sebaik-baiknya”. (An-Nisa:69)
Para mufassirin mengatakan: ” Inilah orang-orang yang dianugerahi nikmat sebagaimana yang tersebut dalam surat Al-Fatihah ayat 7″. Mereka adalah:
1. Para Nabi dan Rasul;
Para nabi adalah kelompok ash-shirat al-mustaqiim yang terbaik. Mereka adalah teladan kehidupan masing-masing umatnya dan teladan pula untuk kehidupan kita hari ini. Dan khusus untuk Nabi Muhammad saw beliau diutus untuk seluruh umat dan teladan terbaik bagi kehidupan umat sepanjang zaman. Dalam surat al-An’am Allah menyebutkan 17 nabi dalam ayat-ayat yang berurutan.
Allah berfirman:
“Dan Itulah hujjah Kami yang Kami berikan kepada Ibrahim untuk menghadapi kaumnya. Kami tinggikan siapa yang Kami kehendaki beberapa derajat. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Bijaksana lagi Maha mengetahui. Dan Kami telah menganugerahkan Ishak dan Yaqub kepadanya. kepada keduanya masing-masing telah Kami beri petunjuk; dan kepada Nuh sebelum itu (juga) telah Kami beri petunjuk, dan kepada sebahagian dari keturunannya (Nuh) Yaitu Daud, Sulaiman, Ayyub, Yusuf, Musa dan Harun. Demikianlah Kami memberi Balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Dan Zakaria, Yahya, Isa dan Ilyas. semuanya Termasuk orang-orang yang saleh. Dan Ismail, Ilyasa’, Yunus dan Luth. masing-masing Kami lebihkan derajatnya di atas umat (di masanya), dan Kami lebihkan (pula) derajat sebahagian dari bapak-bapak mereka, keturunan dan saudara-saudara mereka. dan Kami telah memilih mereka (untuk menjadi nabi-nabi dan rasul-rasul) dan Kami menunjuki mereka ke jalan yang lurus. Itulah petunjuk Allah, yang dengannya Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya. seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan. Mereka Itulah orang-orang yang telah Kami berikan Kitab, hikmat dan kenabian jika orang-orang (Quraisy) itu mengingkarinya, Maka Sesungguhnya Kami akan menyerahkannya kepada kaum yang sekali-kali tidak akan mengingkarinya. Mereka Itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, Maka ikutilah petunjuk mereka. Katakanlah: “Aku tidak meminta upah kepadamu dalam menyampaikan (Al-Quran).” Al-Quran itu tidak lain hanyalah peringatan untuk seluruh umat”. (Al-An’am:83-90)
Mereka yang disebut dalam ayat di atas adalah Ibrahim, Ishaq, Yaqub, Nuh, Daud, Sulaiman, Ayyub, Yusuf, Musa, Harun, Zakaria, Yahya, Isa, Ilyas, Ismail, Ilyasa’, Yunus dan Luth.
Pujian Allah terhadap mereka sungguh luar biasa. Mereka dipuji sebagai orang yang derajatnya tinggi, mendapatkan hidayah ke jalan yang lurus, muhsinin (selalu berbuat yang tebaik), saleh, memiliki kelebihan di atas rata-rata manusia, serta mendapatkan amanah kitab suci, hikmah dan kenabian. Karena sifat-sifat mereka yang luar biasa itu Allah memerintahkan kita untuk menjadikannya teladan dan qudwah.
Adapun perintah untuk meneladani nabi Muhammad saw disebutkan secara khusus oleh Allah. Allah berfirman:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآَخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah”. (Al-Ahzab:21)
Dalam ayat di atas Allah menghimbau segenap manusia yang ingin selamat hidupnya di dunia dan akhirat untuk menjadikan Rasulullah saw sebagai teladan dalam kehidupannya, karena pada diri beliau ada suri teladan yang baik. Ayat ini seolah-olah memberikan pesan tersirat kepada kita: “Wahai manusia… kalau kalian mencari teladan yang lain dari selain dia, maka jangan terlalu berharap mendapatkan rahmat Allah di dunia dan keselamatan hidup di akhirat”.
2. Para Shiddiqin;
Mereka adalah orang yang yakin akan kebenaran Islam dan tidak pernah terbetik sedikitpun keraguan dalam hatinya dan apa yang dikatakannya selalu dibuktikan dengan perbuatan. Abu Bakar adalah salah satu sosok as-shidiq sejati. Dan Allah secara tergas memerintahkan kepada kita untuk mengikuti jejak langkah mereka.
Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ
“Hai orang-orang yang beriman bertaqwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar”. (At-Taubah:119)
3. Para Syuhada;
Mereka adalah orang-orang yang bersaksi akan ke-Esaan Allah di alam ini, bersaksi bahwa Rasul adalah benar telah menyampaikan risalah dan mereka mempersembahkan jiwa raga mereka untuk menegakkan nilai keimanan yang mereka yakini.
4. Para Shalihin;
Mereka adalah orang-orang yang keimanan dan amalannya banar, tidak hipokrit dalam kehidupan.
Apa langkah-langkah yang harus kita lakukan?
1. Mengenal mereka
Dan cara untuk mengenal mereka adalah dengan banyak membaca sejarah hidup dan perjuangan mereka. Kalau kita memiliki anak-anak, sebaiknya kita mengenalkan tokoh-tokoh sukses tersebut sebagai pengantar tidur mereka. Kalau mereka masih hidup dan kita memiliki kesempatan untuk bertemu dan belajar dengan mereka sebaiknya kita mengenal mereka lebih jauh.
Ibu Anas bin Malik dalam hal ini sangat layak dijadikan teladan. Rasa sayangnya terhadap Anas tidak menghalanginya untuk berpisah dengannya. Sepuluh tahun diserahkan Anas kepada Rasulullah saw untuk membantu di rumahnya, jadilah Anas termasuk yang paling mengenal Rasulullah saw.
2. Mencintai
Cinta yang bersemi itu akan menumbuhkan rasa rindu untuk bertemu dan mendengar suaranya, mendorong bibir untuk selalu menyebut namanya, membangkitkan motivasi kita untuk meneladaninya dan menumbuhkan semangat untuk berkorban.
Pada suatu hari Sa’ad bin Ubadah dikunjungi oleh Rasulullah saw. ketika sampai di rumahnya Rasulullah saw pun mengucapkan salam. Sa’ad tahu bahwa yang mengucapkan salam adalah Rasulullah saw. dia pun menjawab salam dengan suara yang tidak terdengar oleh Rasulullah. Setelah mengucapkan salam tiga kali Rasulullah saw akhirnya pulang. Tetapi langkah beliau itu diikuti oleh Sa’ad dari belakang. Beliau berkata: “Wahai Rasulullah saw, setiap salam yang Anda ucapkan selalu aku dengar dengan baik. Aku sebenarnya menjawab salammu, tetapi aku sengaja tidak mengeraskannya, karena aku suka Anda memperbanyak salam atasku dan supaya aku mendapatkan berkah”. (Miskatul Mashabi)
3. Meneladani kehidupan mereka
Kita tidak akan bergabung dengan para kekasih di hari kiamat jika kita tidak memiliki kesamaan karakter dengan mereka, karena Allah mengumpulkan jiwa manusia berdasarkan kesamaan karakter. Semakin banyak kesamaan semakin dekat kita dengan mereka. Rasulullah saw bersabda:
الْأَرْوَاحُ جُنُودٌ مُجَنَّدَةٌ فَمَا تَعَارَفَ مِنْهَا ائْتَلَفَ وَمَا تَنَاكَرَ مِنْهَا اخْتَلَفَ
“Jiwa manusia adalah tentara-tentara yang terorganisir. Jika saling mengenal dia akan menyatu, tetapi jika bertentangan maka dia akan berpisah”. (Bukhari).
4. Berdoa
Selain usaha yang sungguh-sungguh untuk menjadi seperti mereka, kita tidak boleh lupa dan berhenti untuk berdoa agar termasuk dalam komunitas orang-orang saleh di dunia dan di akhirat. Di antara doa yang bagus diamalkan adalah seperti yang diucapkan oleh nabi Sulaiman as, seperti yang difirmankan Allah:
رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَدْخِلْنِي بِرَحْمَتِكَ فِي عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ
“Dan Dia berdoa: “Ya Tuhanku berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh”. (An-Naml:19)
b. Senantiasa Mengetahui Penyakit yang Dapat Merusak Hidayah
Belum lengkap kiranya jika hanya memupuk hidayah dengan mengetahui jalan orang-orang yang saleh saja tanpa berusaha mengenal jalan-jalan atau penyakit yang dapat merusak hidayah. Karenanya di antara permohonan kita selalu disandingkan agar dihindarkan dari jalan yang telah dimurkai dan disesatkan. Penggalan kata berikut adalah ghair al-maghdubi alaihim waladhalin
Paling tidak ada dua penyakit yang harus diketahui untuk kemudian dijauhi oleh setiap yang ingin tetap berada dalam hidayah.
1. Penyakit al-maghdubi (dimurkai sebagai akibat dari apa yang dilakukan)
Kata al-maghdu berasal dari kata ghadhab yang dalam berbagai bentuknya memiliki keragaman makna, namun kesemuanya memberikan kesan “keras, kokoh dan tegas”. Kata tersebut jika diperankan oleh manusia dinamai amarah. Tetapi bila diperankan oleh Allah maka, walaupun ia diterjemahkan dengan amarah atau murka namun maksudnya adalah kehendak-Nya untuk melakukan tindakan keras dan tegas. Atau dengan kata lain adalah siksaan. Dengan demikian “murka Allah” adalah siksa atau ancaman siksa-Nya.
Siapakah yang dimaksud dengan al-maghdub alaihim seperti yang termaktub dalam ayat ini??, tidak dijelaskan dengan detail. Sementara ulama tafsir menyatakan bahwa mereka adalah orang-orang Yahudi, berdasarkan keterangan suatu hadits. Al-Qur’an juga memberitakan bahwa orang-orang Yahudi mengenal kebenaran namun enggan mengikutinya. Atas dasar ini, ulama tafsir lain memperluas pengertiannya sehingga mencakup semua orang yang telah mengenal kebenaran namun enggan mengikutinya.
Dalam penjelasan Rasulullah saw memang dijelaskan bahwa maksud dari Yahudi bukan berarti seluruh Bani Israel (orang-orang Yahudi yang mendapat murka), namun hanyalah orang-orang yang melakukan pelanggaran. Murka dan nikmat Allah tidak dibagi atas dasar ras, bangsa dan keturunan, tetapi atas dasar niat dan tingkah laku.
Wajar sekali Rasulullah saw memberikan contoh itu (orang Yahudi) karena dari 24 kata ghadhab dalam berbagai bentuknya yang disebutkan dalam Al-Qur’an, 12 kali adalah dalam konteks pembicaraan tentang pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi. Sedang sisanya berkisar pada pembicaraan tentang amarah sebagai naluri manusia, atau murka Allah yang ditujukan kepada orang-orang musyrik penyembah berhala, orang munafik, atau bahkan orang-orang muslim yang melakukan pelanggaran tertentu.
Setelah menelusuri ayat-ayat Al-Qur’an dapat disimpulkan bahwa pelanggaran orang Yahudi yang mengakibatkan murka Allah mencakup:
1. Mengingkari tanda-tanda kebesaran Ilahi
2. Membunuh nabi-nabi tanpa alasan yang benar
3. Iri hati dan membangkang, akibat anugerah Allah yang diberikan kepada orang lain
4. Membantah keterangan-keterangan Rasul
5. Mempersekutukan Allah dan mempersonifikasikan nya dalam bentuk sapi
6. Melakukan pelanggaran-pelanggaran dalam perolehan rezki seperti suap, menyalahgunakan kekuasaan, riba, monopoli, serakah dan lain-lain.
Adapun pelanggaran-pelanggaran yang juga dikaitkan dengan murka Allah tetapi bukan dalam konteks pembicaraan menyangkut Yahudi adalah:
1. Membunuh seorang mukmin dengan sengaja tanpa alasan yang benar
2. Berprasangka buruk kepada Allah serta meragukan kehadiran bantuan-Nya
3. Lari dari peperangan membela kebenaran
4. Murtad dan memilih kekufuran sebagai ganti keimanan, atau menentang ajaran agama yang hak
5. Perzinahan yang dilakukan oleh seorang wanita yang sedang terikat perkawinan tanpa bertobat.
Dalam ayat ketujuh surat al-fatihah ini tidak dijelaskan siapa yang dimurkai Allah itu, namun dari penelusuran seperti yang dilakukan di atas, kita dapat menemukan bahwa siapa pun yang melakukan pelanggaran semacam itu pasti dimurkai Allah. Di sisi lain perlu ditegaskan bahwa walaupun telah ditemukan macam-macam pelanggaran yang mengakibatkan ghadhab (murka) Allah, tetapi itu bukan berarti bahwa hanya pelanggaran yang disebutkan itulah yang dapat mengakibatkan dosa atau siksa Allah, karena masih banyak pelanggaran lain yang tidak dikaitkan secara tegas dengan kata ghadhab. Masih banyak siksa dan kegagalan hidup yang dialami seseorang bukan sebagai akibat pelanggaran-pelanggaran yang disebutkan di atas.
Dari ayat di atas tidak disebutkan siapa yang murka, tidak seperti halnya penggalan ayat sebelumnya secara tegas disebutkan “orang-orang yang Engkau beri nikmat”. Memang, para ulama tafsir memperbincangkan mengapa redaksi ayat ketujuh ini tidak berbunyi: “Bukan yang Engkau Murkai”.
Amarah secara umum dinilai sebagai sifat yang tidak terpuji, walaupun tentunya sewaktu-waktu dapat dibenarkan. Di sini, ketika berbicara tentang murka Allah, seorang hamba diajarkan agar tidak mengucapkan sesuatu yang dapat menimbulkan kesan negatif terhadap Allah. Jangan berkata: “Yang Engkau murkai, wahai Allah”. Karena sifat Al-ghadhab adalah sifat yang tidak terpuji. Rahmat Allah mengalahkan amarah-Nya. Tidak ada sifat dan sikap tercela dari Allah. Segala yang terpuji dan indah adalah dari-Nya. Dialah sumber kebaikan dan keindahan.
Dengan demikian siapa pelaku dari murka tersebut?
Sekalipun jawabannya adalah Allah yang murka, tapi bukan berarti Allah tanpa sebab melakukannya, hendaklah dicari penyebabnya; yaitu diri manusia (makhluk). Karena ulah merekalah murka tersebut terjadi. Allah menegaskan:
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”. (Ar-Ruum:41)
مَا أَصَابَكَ مِنْ حَسَنَةٍ فَمِنَ اللَّهِ وَمَا أَصَابَكَ مِنْ سَيِّئَةٍ فَمِنْ نَفْسِكَ وَأَرْسَلْنَاكَ لِلنَّاسِ رَسُولًا وَكَفَى بِاللَّهِ شَهِيدًا
“Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, Maka dari (kesalahan) dirimu sendiri. Kami mengutusmu menjadi Rasul kepada segenap manusia. dan cukuplah Allah menjadi saksi”. (An-Nisa:79)
وَمَا ظَلَمَهُمُ اللَّهُ وَلَكِنْ أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ
“Allah tidak Menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang Menganiaya diri mereka sendiri”. (Ali Imran:117)
Murka yang menimpa seseorang atau suatu umat bukanlah datang dengan sendirinya tapi karena ada penyebabnya yaitu manusia itu sendiri. Karena ulah manusialah, Allah terpaksa mengeluarkan ghadab-Nya. Tidak mungkin Allah mencelakakan manusia yang telah diciptakan-Nya, kecuali karena adanya pembangkangan dan pelanggaran yang dilakukan oleh manusia terhadap syariat yang telah diturunkan, padahal ayat-ayat Allah dan segala nikmatnya telah diberikan kepada manusia.
2. Adapun penyakit kedua adalah kesesatan, seperti yang termaktub dalam akhir ayat “dan bukan pula orang yang sesat”.
Kata adh-dhalin dapat diartikan bahwa mereka adalah orang Nasrani sesuai dengan bunyi sebuah hadits. Tetapi tanpa menolak penjelasan tersebut, di sini kita mengulangi apa yang telah dikemukakan ketika menafsirkan “orang yang dimurkai”, bahwa penjelasan nabi itu hanya sekadar contoh tentang orang-orang yang dinilai sesat dan yang beliau angkat dari kenyataan masyarakat di mana beliau berada.
Jika kita telusuri kata Ad-dhalin dalam Al-Qur’an ditemukan sebanyak 8 kali, sedangkan kata ad-dhalun sebanyak 5 kali. Dan karena semua itu, dapat kita temukan 4 alasan utama yang membuat manusia tersesat;
1. Surat Ali Imran ayat 90:
إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا بَعْدَ إِيمَانِهِمْ ثُمَّ ازْدَادُوا كُفْرًا لَنْ تُقْبَلَ تَوْبَتُهُمْ وَأُولَئِكَ هُمُ الضَّالُّونَ
“Sesungguhnya orang-orang kafir sesudah beriman, kemudian bertambah kekafirannya, sekali-kali tidak akan diterima tobatnya; dan mereka Itulah orang-orang yang sesat”.
Ayat tersebut menggambarkan bahwa orang yang kafir sesudah beriman dan bertambah kekufuran nya adalah orang yang sesat.
2. Surat Al-An’am ayat 77:
لَئِنْ لَمْ يَهْدِنِي رَبِّي لَأَكُونَنَّ مِنَ الْقَوْمِ الضَّالِّينَ
“Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepada-Ku, pastilah aku Termasuk orang yang sesat.”
Dan surat Al-Hijr: 56:
قَالَ وَمَنْ يَقْنَطُ مِنْ رَحْمَةِ رَبِّهِ إِلَّا الضَّالُّونَ
“Tidak ada orang yang berputus asa dari rahmat Tuhan-nya, kecuali orang-orang yang sesat”.
Dari kedua ayat di atas dapat ditemukan tiga tipe orang-orang yang dinilai sesat.
a. Orang-orang yang tidak menemukan atau mengenal petunjuk Allah dan atau agama yang benar; dalam arti ia tidak mengetahui adanya ajaran agama, atau pengetahuannya sangat terbatas sehingga tidak dapat mengantarnya untuk berpikir ke depan.
b. Orang-orang yang pernah memiliki sedikit pengetahuan agama, ada pula keimanan dalam hatinya, namun pengetahuan tersebut tidak dikembangkannya, tidak pula diasah dan diasuh keimanannya, sehingga pudar seluruhnya.
c. Mereka yang berputus asa dari rahmat Allah; seperti putus asa akan kesembuhan penyakit, pengampunan dosa, capaian sukses, terus mengalami hidup yang sesuai dengan keinginannya (hidup layak, kaya dan harta berlimpah), cita-cita yang kandas, jabatan yang tidak tercapai dan lain-lainnya, yang pada akhirnya tidak berprasangka baik kepada Allah atau mengingkari kebesaran, kemahakuasaan dan kekayaan-Nya yang mutlak”.
Demikianlah ayat terakhir surat al-fatihah ini mengajarkan kita agar bermohon kepada Allah, kiranya kita diberi petunjuk oleh Allah sehingga mampu menelusuri jalan lagi lurus, jalan yang pernah ditempuh oleh orang-orang yang telah memperoleh sukses dalam kehidupan ini, bukan jalan orang yang gagal dalam kehidupan ini karena tidak mengetahui arah yang benar, atau mengetahuinya tetapi enggan menelusurinya.
Sebagaimana ayat ini juga mengajarkan agar kita selalu optimis menghadapi hidup ini; bukankah nikmat Allah selalu tercurah kepada hamba-hamba-Nya?
Dan akhirnya kita dianjurkan mengakhiri bacaan surat ini dengan ucapan amin, walaupun ia bukan merupakan bagian dari surat Al-Fatihah. Yang berarti “Ya Allah. Perkenankanlah permohonan kami”. Kita memohon kepada Allah, kiranya mengantarkan kita kepada kejelasan, pergerakan dan peningkatan. Diarahkan ke jalan agama yang lurus seperti yang telah ditempuh oleh puluhan ribu manusia dari para nabi, shiddiqin, syuhada dan shalihin. Sambil juga memohon dihindarkan dari segala sifat, penyakit dan perilaku yang dapat membuat turunnya murka Allah dan membuat kita tersebut. Amin ya mujibasailin.